BAB
I:
PENDAHULUAN
Penyakit utama
pada kelompok lanjut usia di Indonesia adalah penyakit tulang dan sendi, kardiovaskuler, infeksi saluran pernapasan
dan gangguan metabolisme. Data dirumah
sakit maupun di masyarakat menunjukkan penyakit kardiovaskuler yang
terdiri dari penyakit jantung koroner, penyakit jantung hipertensi dan
stroke adalah penyebab utama kematian pada kelompok lanjut usia. Adapun salah
satu faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit kardiovaskuler adalah
gangguan kadar lemak dalam darah (dislipidemia). Pada
penelitian yang dilakukan pada tahun 2004 terhadap 656 responden di 4 kota
besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Padang) didapatkan
keadaan dislipidemia berat (total kolesterol >240 mg/dL) pada orang berusia
diatas 55 tahun didapatkan paling banyak di Padang dan Jakarta (>56%),
diikuti oleh mereka yang tinggal di Bandung (52,2%) dan Yogyakarta (27,7%). 1
BAB
II:
DISLIPIDEMIA
A. Definisi Dislipidemia
Dislipidemia
adalah kelainan metabolisme lipid, yang ditandai dengan kelainan fraksi lipid
berupa kenaikan kadar kolesterol total, kenaikan kadar LDL, kenaikan kadar
trigliserida dan penurunan kadar HDL. 2(dislipi 1096-1)
B. Etiologi dan Faktor Resiko
Adanya
kadar lipoprotein, terutama LDL
meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Pada keadaan normal pria memiliki
kadar LDL yang lebih tinggi, tetapi setelah menopause
kadarnya pada wanita lebih banyak. Faktor lain yang menyebabkan tingginya kadar
lemak tertentu (VLDL dan LDL) yakni penyalahgunaan alkohol, riwayat keluarga dengan hiperlipidemia,
sirosis,
diabetes yang tidak terkontrol
dengan baik, diet
kaya lemak, obesitas, hipotiroidisme, kurang melakukan olah raga, dan merokok. 3(1724-darey):
C. Patofisiologi
Normalnya lemak
ditranspor dalam darah berikatan dengan lipid yang berbentuk globuler. Lipid
dalam plasma terdiri dari kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak
bebas. Peningkatan lipid dalam darah akan mempengaruhi kolesterol, trigliserida
dan keduanya (hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia atau kombinasinya yaitu
hiperlipidemia). Hiperlipoproteinemia biasanya juga terganggu (Ikatan
protein dan lipid tersebut menghasilkan 4 kelas utama lipoprotein : kilomikron,
VLDL, LDL, dan HDL.4
Pasien dengan
hiperkolesterolemia (> 200 – 220 mg/dl serum) merupakan gangguan yang
bersifat familial, berhubungan dengan kelebihan berat badan dan diet. Makanan
berlemak meningkatkan sintesis
kolesterol di hepar yang menyebabkan penurunan densitas reseptor LDL di serum
(> 135 mg/dl). Ikatan LDL mudah melepaskan lemak dan kemudian membentuk plak
pada dinding pembuluh darah yang selanjutnya akan menyebabkan terjadinya
arterosklerosis dan penyakit jantung koroner. 4
Gambar 1. Lipoprotein
Metabolisme4
Gambar 2. Metabolisme lipoprotein lanjutan 4
Adapun jalur
transportasi lipid dan tempat kerja obat ada dua yakni jalur transport lipid
dan tempat kerja obat:
1.
Jalur endogen
Trigliserida dan
kolesterol dari hepar diangkut dengan bentuk VLDL ke jaringan kemudian
mengalami hidrolisis sehingga terbentuk lipoprotein yang lebih kecil IDL dan
LDL. LDL merupakan lipoprotein dengan kadar kolesterol terbanyak (60-70%).
Peningkatan katabolisme LDL di plasma dan hepar yang akan meningkatkan kadar
kolesterol plasma. Peningkatan kadar kolesterol tersebut akan membentuk foam
cell di dalam makrofag yang berperan pada arterosklerosis prematur.5
2.
Jalur eksogen
Trigliserida dan
kolesterol dari usus akan dibentuk menjadi kiomikron yang kemudian akan
diangkut ke saluran limfe dan masuk ke duktus torasikus. Di dalam jaringan
lemak, trigliserida dari kilomikron akan mengalami hidrolisis oleh lipoprotein
lipase yang terdapat pada permukaan endotel sehingga akan membentuk asam lemak
dan kilomikron remnan (kilomikron yang kehilangan trigliseridanya tetapi masih
memiliki ester kolesterol). Kemudian asam lemak masuk ke dalam endotel ke dalam
jaringan lemak dan sel otot yang selanjutnya akan diubah kembali menjadi
trigliserida atau dioksidasi untuk menghasilkan energi.5
Kilomikron
remnan akan dibersihkan oleh hepar dengan mekanisme endositosis dan lisosom
sehingga terbentuk kolesterol bebas yang berfungsi sintesis membran plasma,
mielin dan steroid. Kolesterol dalam hepar akan membentuk kolesterol ester atau
diekskresikan dalam empedu atau diubah menjadi lipoprotein endogen yang masuk
ke dalam plasma. Jika tubuh kekurangan kolesterol, HMG-CoA reduktase akan aktif
dan terjadi sintesis kolesterol dari asetat.5
D. Klasifikasi
Ada beberapa klasifikasi dislipidemia didasarkan
pada fenotip dan patogenik yakni sebagai berikut:
1. Klasifikasi Fenotip 1
a. Klasifikasi EAS (European Atheroselerosis
Society)
Tabel 2. Klasifikasi Berdasarkan EAS (European Atheroselerosis Society)
|
|
Peningkatan
|
|
|
|
Lipoprotein
|
Lipid plasma
|
|
Hyperkolesterolemia
|
LDL
|
Kolesterol ≥ 200 mg/dl
|
|
Dislipidemia campuran (kombinasi)
|
LDL
+
VLDL
|
Trigliserida ≥ 200 mg/dl
+
Kolesterol ≥ 240 mg/dl
|
|
Hipertrigliseridemia
|
VLDL
|
Trigliserida ≥ 200 mg/dl
|
b. Klasifikasi NECP (National Cholesterol Education Program)
Tabel 3. Klasifikasi Berdasarkan NECP.
|
|
Kolesterol
Total
|
LDL
|
|
“ideal”
|
≥ 200 mg/dl
|
< 200 mg/dl
|
|
Batas tinggi
|
200-239 mg/dl
|
130-159 mg/dl
|
|
Tinggi
|
≤ 240 mg/dl
|
≥ 160 mg/dl
|
c. Klasifikasi WHO (World Health Organization)
Tabel
4. Klasifikasi Berdasarkan WHO
|
Fredricson
|
Klasifikasi
generik
|
Klasifikasi
terapeutik
|
p
lipoprotein
|
|
I
|
Dislipidemia eksogen
|
Hipertrigliseridemia
eksogen
|
Kilomikron
|
|
IIa
|
Hiperkolesterolemia
|
Hiperkolesterolemia
|
LDL
|
|
IIb
|
Dislipedemia kombinasi
|
Hiperkolesterolemia
endogen + dislipidemia kombinasi
|
LDL+ VLDL
|
|
III
|
Dislipedemia
remant
|
Hipertrigliseridemia
|
Partikel-partikel remant (beta VLDL)
|
|
IV
|
Dislipedemia endogen
|
Endogen
|
VLDL
|
|
V
|
Dislipedemia campuran
|
Hipertrigliseridemia
endogen
|
VLDL
+kilomikron
|
2. Klasifikasi
Patogenik
Klasifikasi dislipidemia berdasarkan atas ada
atau tidaknya penyakit dasar yaitu primer dan sekunder. Dislipidemia primer
memiliki penyebab yang tidak jelas sedangkan dislipidemia sekunder memiliki
penyakit dasar seperti sindroma nefrotik, diabetes melitus, hipotiroidisme
(Sudoyo, 2006). Contoh dari dislipidemia primer adalah hiperkolesterolemia
poligenik, hiperkolesterolemia familial, hiperlipidemia kombinasi familial, dan
lain-lain.1
E. Klasifikasi Kadar Lipid Plasma Menurut NCEP ATP III
National Cholesterol Education Program Adult
Panel III (NCEP ATP III) pada tahun 2001 membuat
klasifikasi kadar lipid yang digunakan saat ini. Berbeda dengan klasifikasi sebelumnya, pada
klasifikasi yang baru tertera kadar lipid yang diinginkan (optimal).
Tabel 5. Klasifikasi ATP dari LDL, total, dan kolesterol LDH dan trigliserida
(mg/dL).
|
Total Cholesterol
|
|
|
<200
200-239
≥ 240
|
Desirable
Bordeline high
High
|
|
LDL Cholesterol
|
|
|
<100
100-129
130-159
160-189
≥ 190
|
Optimal
Near or above optimal
Boderline high
High
Very high
|
|
HDL Cholesterol
|
|
|
<40
≥60
|
Low
High
|
|
Trigliserida
|
|
|
<150
150-199
200-499
≥500
|
Normal
Boderline high
High
Very high
|
F.
Gejala Klinis dan
diagnosis
Kebanyakan pasien adalah asimptomatik selama
bertahun-tahun sebelum penyakit jelas secara klinis, dan biasanya ditemukan
pada saat pasien melakukan pemeriksaan rutin kesehatan (medical check-up). Pasien mungkin terdapat obesitas atau memiliki
gejala awal nyeri dada. Gejala-gejala lain yang mungkin bisa tampak diantaranya
berkeringat, jantung berdebar, nafas pendek dan cemas. 1
Pada anamnesis biasanya
didapatkan pasien dengan faktor risiko seperti kegemukan, diabetes mellitus, konsumsi tinggi lemak, merokok dan faktor risiko
lainnya. Pada pemeriksaan
fisik sukar ditemukan kelainan yang spesifik kecuali jika didapatkan riwayat
penyakit yang menjadi faktor risiko dislipidemia. Selain itu, kelainan mungkin
didapatkan bila sudah terjadi komplikasi lebih lanjut seperti penyakit jantung
koroner. 1
Pada pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting
dalam menegakkan diagnosa. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar
kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL dan trigliserida plasma. 1
Pasien sebaiknya berada
dalam keadaan metabolik yang stabil tanpa adanya perubahan berat badan, pola
makan, kebiasaan merokok, olahraga, tidak sakit berat ataupun tidak ada operasi
dalam 2 bulan terakhir. Selain itu, sebaiknya pasien tidak mendapatkan
pengobatan yang mempengaruhi kadar lipid dalam 2 minggu terakhir. Apabila
keadaan ini tidak memungkinkan, pemeriksaan tetap dilakukan dan disertai dengan
beberapa catatan, yakni: untuk pemeriksaan
TG diperlukan puasa 12 jam (semalam), selama puasa boleh minum air putih,untuk pemeriksaan
kol-total tidak perlu puasa, bila kol-LDL diperiksa secara direk, tidak perlu
puasa,bila kol-LDL
diperiksa secara indirek, persiapannya tetap dengan puasa 12 jam. 1
Pengambilan bahan dilakukan
dengan melakukan bendungan vena seminimal mungkin dan bahan yang
diambil adalah serum. Analisis kadar kolesterol dan trigliserida dilakukan
dengan metode enzimatik sedangkan analisis kadar kolesterol HDL dan kolesterol
LDL dilakukan dengan metode presipitasi dan enzimatik. 1
G.
Penatalaksanaan dislipidemia
Penatalaksanaan dalam dislipidemia dimulai dengan
melakukan penilaian jumlah faktor risiko penyakit jantung koroner pada pasien
untuk menentukan kolesterol-LDL yang harus dicapai. Berikut ini adalah tabel
faktor resiko (selain kolesterol LDL) yang menentukan sasaran kolesterol LDL
yang ingin dicapai berdasarkan NCEP-ATP III. 6
Tabel
6. Faktor Risiko (Selain Kolesterol LDL) yang
Menentukan Sasaran
Kolesterol
LDL yang Ingin Dicapai
|
Faktor
risiko yang menentukan sasaran kolesterol
LDL yang ingin dicapai
|
|
·
Umur pria ≥ 45 tahun dan wanita ≥ 55 tahun.
·
Riwayat keluarga PAK (Penyakit Arteri Koroner) dini
yaitu ayah usia < 55 tahun dan ibu <
65 tahun.
·
Kebiasaan merokok
·
Hipertensi (≥140/90 mmHg atau sedang mendapat obat
antihipertensi)
·
Kolesterol HDL rendah ( <40 mg/dl). Jika didapatkan
kolesterol HDL ≥60mg/dl maka mengurangi satu faktor risiko dari jumlah total
|
Setelah menemukan
banyaknya faktor risiko pada seorang pasien, maka pasien dibagi kedalam tiga
kelompok risiko penyakit arteri koroner yaitu risiko tinggi, risiko sedang dan
risiko tinggi. Hal ini digambarkan pada tabel berikut ini.6
Tabel 7. Kategori
Resiko yang Menentukan Sasaran Kolesterol LDL yang
Ingin Dicapai berdasarkan NCEP6
|
Kategori
Resiko
|
Sasaran
Kolesterol LDL (mg/dl)
|
|
1. Resiko Tinggi
a. Mempunyai Riwayat PJK dan
b. Mereka yang mempunyai risiko yang disamakan
dengan PJK
Ø Diabetes Melitus
Ø Bentuk lain penyakit aterosklerotik yaitu
stroke, penyakit arteri perifer, aneurisma aorta abdominalis
Ø Faktor risiko multipel (> 2 faktor
risiko) yang mempunyai risiko PJK dalam waktu 10 tahun > 20 % (lihat skor risiko
Framingham)
2. Resiko Multipel (≥2 faktor resiko) dengan
risiko PJK dalam kurun waktu 10 tahun < 20%
3. Resiko Rendah (0-1 faktor resiko) dengan risiko PJK dalam kurun waktu 10
tahun < 10 %
|
<100
<130
<160
|
Penatalaksanaan dislipidemia terdiri dari penatalaksanaan umum, non farmakologi, dan farmakologi yakni sebagai berikut:
1)
Penatalaksanaan umum
Pilar
utama pengelolaan dislipidemia adalah upaya nonfarmakologis yang meliputi
modifikasi diet, latihan jasmani serta pengelolaan berat badan. Terapi diet
memiliki tujuan untuk menurunkan risiko PJK dengan mengurangi asupan lemak
jenuh dan kolesterol serta mengembalikan keseimbangan kalori, sekaligus
memperbaiki nutrisi. Perbaikan keseimbangan kalori biasanya memerlukan
peningkatan penggunaan energi melalui kegiatan jasmani serta pembatasan asupan
kalori. 1
2) Penatalaksanaan non farmakologi
a) Terapi Nutrisi Medis
Terapi
diet dimulai dengan menilai pola makan pasien, mengidentifikasi makanan yang
mengandung banyak lemak jenuh dan kolesterol serta berapa sering keduanya
dimakan. Jika diperlukan ketepatan yang lebih tinggi untuk menilai asupan gizi,
perlu dilakukan penilaian yang lebih rinci,
yang biasanya membutuhkan bantuan ahli gizi. Penilaian pola makan
penting untuk menentukan apakah harus dimulai dengan diet tahap I atau langsung
ke diet tahap ke II. Hasil diet ini terhadap kolesterol serum dinilai setelah
4-6 minggu dan kemudian setelah 3 bulan. Pada pasien dengan kadar kolesterol LDL atau
kolesterol total yang tinggi sebaiknya mengurangi asupan lemak total dan lemak
jenuh (saturated fatty acid/SAFA), dan meningkatkan asupan lemak tak jenuh
rantai tunggal dan ganda (mono dan poly unsaturated fatty acid/MUFA dan PUFA).
Asupan karbohidrat, alkohol dan lemak perlu dikurangi pada pasien dengan kadar
trigliserida yang tinggi. 1,6
Tabel 8. Komposisi Tahap I dan Tahap II
|
|
Tahap I
|
Tahap II
|
|
Karbohidrat (% kalori)
|
50-60
|
50-60
|
|
Protein (% kalori)
|
15-20
|
15-20
|
|
Lemak (% kalori)
|
<30
|
<30
|
|
Kolesterol (mg/dl)
|
<300
|
<200
|
|
Lemak jemuh (% kalori)
|
<10
|
<7
|
Tabel
9. Komposisi Makanan untuk Hiperkolesterolemia
|
Makanan
|
Asupan
yang dianjurkan
|
|
v Total Lemak
|
20-255 dari kalori total
|
|
ü Lemak Jenuh
|
<7% dari kalori total
|
|
ü Lemak PUFA
|
Sampai 10% dari kalori total
|
|
ü Lemak MUFA
|
Sampai 10% dari kalori total
|
|
Karbohidrat
|
60% dari kalori total
|
|
Serat
|
30 gr perhari
|
|
Protein
|
Sekitar 15% dari kalori total
|
|
Kolesterol
|
<200 mg/hari
|
b) Aktivitas Fisik
Dari
beberapa penelitian diketahui bahwa latihan fisik dapat meningkatkan kadar HDL
dan Apo AI, menurunkan resistensi insulin, meningkatkan sensitivitas dan
meningkatkan keseragaman fisik, menurunkan
trigliserida dan LDL, dan menurunkan berat badan. Setiap
melakukan latihan jasmani perlu diikuti 3 tahap : 1
Ì
Pemanasan dengan peregangan selama 5-10 menit
Ì
Aerobik sampai denyut jantung sasaran yaitu 70-85 % dari denyut jantung
maksimal ( 220 - umur ) selama 20-30 menit .
Ì
Pendinginan dengan menurunkan intensitas
secara perlahan - lahan, selama 5-10 menit. Frekuensi latihan sebaiknya
4-5 x/minggu dengan lama latihan seperti diutarakan diatas. Dapat juga
dilakukan 2-3x/ minggu dengan lama latihan 45-60 menit dalam tahap aerobik.
Pada
prinsipnya pasien dianjurkan melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kondisi
dan kemampuan pasien agar aktivitas ini berlangsung terus-menerus 6
3) Penatalaksanaan Farmakologi.
Setelah
6 minggu terapi non farmakologis, dilakukan evaluasi ulang. Bila belum mencapai
kadar kolesterol LDL sasaran yang diharapkan, perlu ditingkatkan/intensifikasi
terapi non-farmakologis. Disamping itu, tentu harus dicari pula penyebab
dislipidemia sekunder. Bila 6 minggu berikutnya kadar kolesterol LDL masih
belum mencapai sasaran, ditambahkan terapi farmakologis dengan tetap
melanjutkan terapi non-farmakologis. Saat
ini didapat beberapa golongan obat yaitu golongan resin, asam nikotinat,
golongan statin, derivat asam fibrat, ezetimibe, dan lain-lain namun obat lini
pertama yang danjurkan oleh NCEP-ATP III adalah HMG-CoA reductase inhibitor.1
Apabila
ditemukan kadar trigliserida >400mg/dl maka pengobatan dimulai dengan
golongan asam fibrat untuk menurunkan trigliserida. Menurut kesepakatan kadar
kolesterol LDL merupakan sasaran utama
pencegahan penyakit arteri koroner sehingga ketika telah didapatkan kadar
trigliserida yang menurun namun kadar kolesterol LDL belum mencapai sasaran
maka HMG-CoA reductase inhibitor akan
dikombinasikan dengan asam fibrat. Selain itu, terdapat obat kombinasi dalam
satu tablet (Niaspan yang merupakan kombinasi lovastatin dan asam nikotinik)
yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan lovastatin atau asam nikotinik
sendiri dalam dosis tinggi.6
Tabel 10. Target
kolesterol LDL (mg/dl):
|
Kategori Resiko
|
Target LDL
|
Kadar LDL untuk mulai PGH
|
Kadar LDL untuk mulai
terapi farmakologis
|
|
PJK/ yang disamakn PJK
|
< 100
|
³
100
|
³
130
((100-129 pemberian obat
opsional)
|
|
Faktor resiko ³ 2
|
< 130
|
³
130
|
10 tahun risiko 10-20% : ³ 130
10 tahun risiko <10% : >160
|
|
Faktor resiko 0-1
|
< 160
|
³
160
|
³
190
(160-189 pemberian obat
opsional)
|
Tabel 11. Kombinasi obat pada manajemen
terapi dislipidemia7,8,9,10
|
·
pada kombinasi
dyslipidemia adanya peningkatan HDL-C dan penurunan TG, serta pengurangan
LDL-C yang dicapai mungkin menjadi statin,. Oleh karena itu satu kombinasi
statin dengan asam nicotinic bisa menjadi efek yang kurang baik yangdapat
mempengaruhi pemenuhan
|
|
·
suatukombinasi
statin dengan fibrates mungkin menjadi pertimbangan sementara monitoring
untuk myopathy, tetapi kombinasi dengan gemfibrozil harus dialihkan
|
|
·
jika TG tidak
dikontrol oleh statins atau fibrates, resep obat [dari] asam lemak mungkin
dipertimbangkan untuk mengurangi TG lebih lanjut, dan kombinasi ini aman
|
v Dislipidemia
pada keadaan khusus:3
a)
Dislipidemia pada diabetes mellitus.
Keadaan resistensi insulin membuat hormone sensitive
lipase di jaringan adipose akan aktif sehingga lipolisis trigliserid di
jaringan adipose akan meningkat. Keadaan ini menghasilkan asam lemak bebas yang
berlebihan. Sehingga asam lemak bebas akan memasuki aliran darah lalu diserap
kembali oleh hati sebagai bahan baku TG. Di hati asam lemak bebas akan menjadi
TG dan menjadi bagian dari VLDL. Oleh karena itu VLDL yang dihasilkan kaya akan
TG dan disebut VLDL besar.
Dalam sirkulasi TG yang banyak di dalam VLDL akan
bertukar dengan kolesterol ester dari kolesterol LDL. TG yang dikandung oleh
LDL akan dihidrolisis oleh enzim hepatic lipase sehingga menghasilkan LDL yang
kecil tapi padat. Partikel ini sangat mudah teoksidasi dan sangat aterogenik.
TG dalam VLDL besar akan bertukar dengan kolesterol
ester dari HDL dan menghasilkan HDL miskin kolesterol ester dan kaya akan TG.
Kolesterol HDL yang miskin kolesterol ester yang mengandung TG lebih mudah
dikatabolisme oleh ginjal sehingga jumlah HDL serum menurun. Sasaran LDL yang
dicapai adalah <70 mg/dl.
b)
Dislipidemia pada sindroma metabolik.
Pada SM,
dislipidemianya kelebihan TG, kadar HDL rendah, dan partikel LDL kecil padat
meningkat. Namun tetaplah LDL yang menjadi sasaran pengobatan. Unuk lini
pertama berikan golongan statin kecuali yang kadar TG ≥ 400 mg/dl berikan obat
golongan fibrat. Diagnosis sindroma metabolic dapat digianosa berdasarkan 3
kriteria berikut:
Ø Lingkar
pinggang è ♂ ≥90cm; ♀ ≥80cm;
Ø Glukosa
darah puasa è ≥ 110 mg/dl
Ø TG
è ≥ 150 mg/dl
Ø Kolesterol
HDL è ♂ <40 mg/dl,
♀ <50 mg/dl
Ø Tekanan
darah è ≥ 135/85 mmHg
Pasien dengan
sindroma metabolic diklasifikasikan ke dalam resiko tinggi PJK karena pasti
sudah menderita DM atau PJK atau skor Framingham > 20 %. Apabila kadar LDL
normal, maka HDL yang menjadi acuan pengobatan.
c)
Dislipidemia pada lansia.
Penurunan
kadar LDL dapat menurunkan angka kematian koroner, dan infark miokard non
fatal. Orang lanjut usia wajib dimasukan ke dalam resiko tinggi.
d)
Dislipidemia pada hipertensi.
Beberapa
obat dapat meningkatkan kadar hipertensi serum ialah Beta bloker tanpa ISA.
Sedangkan obat yang minimal mempengaruhi lipid ialah Calcium Chanel Bloker, ACE
inhibitor, dan tiazid dosis rendah, dan angiotensin reseptr antagonis.
Obat
penurun lipid golongan resin dapat menggaggu absorbsi obat lain. Oleh karena
itu obat anti hipertensi harus diberikan 1 jam sebelum atau 4 jam sesudah
pemberian obat golongan resin pengikat asam empedu. Golongan asam nikotinik
dapat memperkuat efek penurunan tekanan darah obat vasodilator.
e)
Dislipidemia pada gagal ginjal.
Pemberian
statin atau fibrat harus hati-hati pada gagal ginjal kronik. Sebaiknya statin
dimulai dari dosis kecil dan selalu memantau fungsi ginjal dan enzim CPK.
Pemberian fibrat hanya terbatas pada mereka dengan gangguan fungsi ginjal
ringan, kontraindikasi apabila creatinine clearens < 10 ml/menit maka tidak
dianjurkan terapi golongan statin ataupun fibrat.
f)
Dislipidemia pada penyakit hati
Penyakit
hati akut sering berhubungan dengan hipertrigliseridemia dan penurunan kadar
kolesterol HDL. Karena berhubungan dengan penurunan fungsi hepato trigliserid
lipade (HTGL). Sedangkan pada penyakit kolestatik sering terjadi
hiperkolesterolemia. Statin dan fibrat tidak diberikan pada orang dengan SGOT
dan SGPT kenaikan 3x lipat atau lebih. Apabila masih kurang dari 3x lipat maka
wajib dilakukan pemantauan fungsi hati.
g)
Dislipidemia pada IMA.
Pada
infark miokard akut lipid plasma akan mengalami perubahan. Kadar TG yang
puncaknya 3 minggu pasca infark dan akan kembali sampai kadar semula pada
minggu ke-6. Sebaliknya kadar kolesterol total dan LDL menurun dampai terendah
pada minggu ke 1-2 pasca infark, dan kembali sampai kadar semula 8-12 minggu.
Oleh karena itu pemeriksaan kolesterol adalah 48 jam setelah serangan. Dan
dianjurkan memakai statin pada penderita untuk mengurangi angka kematian.
h)
Dislipidemia pada autoimun.
Autoimun
berhubungan dengan gangguan immunoglobulin monoclonal (IgG dan IgA). Terjadinya
dislipidemia berhubungan dengan pembentukan antibody yang berkaitan dengan
enzim lipolitik (lipoprotein lipase/HTGL), apoprotein, dan reseptor
lipoprotein.
i)
Dislipidemia pada penyakit infeksi.
Pada
penderita infeksi berat kuman gram negative, sering terjadi peningkatan kadar
TG. Pada infeksi kuman gram positif juga terdapat peningkatan walau tidak
tinggi, sedangkan kolesterol turun 20-25%. Kadar kolesterol LDL turun pada
infeksi bakteri dan virus. Oleh karena itu sebaiknya pemeriksaan kadar lipid
tidak dilakukan saat masih terjadi infeksi berat. Penderita infeksi HIV
mempunya kadar TG yang lebih tinggi dan kadar total kolesterol yang lebih
rendah disbanding orang non-HIV. Mekanismenya belum diketahui secara pasti.
Namun diperkirakan berhubungan dengan dilepasnya sitokin dari limfosit dan
makrofag. Sitokin meningkatkan produksi trigliserida di hati dan menghambat
menggunaan trigliserida.
j)
Dislipidemia pada artritiis reumathoid.
Dalam
sirkulasi arthritis reumathoid dan spondiloartropati seronegatif ambilan VLDL
menjadi lebih cepat dan kadarnya berkorelasi dengan kadar C-reaktif protein.
k)
Dislipidemia pada hipotitoidisme.
Hormone
yang rendah dapat meningkatkan kolesterol LDL, sehingga pada penderita dengan
kadar kolesterol LDL > 160 mg/dl perlu dipikirkan adanya hipotiroidisme
subklinis.
l)
Dislipidemia pada sindroma nefrotik.
Pada
sindroma nefrotik kelainan lipid yang utama adalah peningkatan kadar kolesterol
LDL, namun beberapa penderita dijumpai peningkatan kadar trigliserida. Apabila
terapi standar sindroma nefrotik tidak dapat menurunkan kadar lipid, dapat maka
dapat dipertimbangkan pemberian obat hipolipidemik, khususnya statin. Namun
pada gagal ginjal kronik dosis hipolipidemik disesuaikan dan kombinasi fibrat /
statin tidak dianjurkan.
BAB III:
PENUTUP
Penelitian-penelitian
menunjukkan bahwa salah satu faktor yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit
kardiovaskuler adala gangguan kadar lemak dalam darah (dislipidemia). Lipid adalah senyawa organic dalam bentuk ester yang berisi
alcohol dan asam lemak. Dislipidemia adalah kelainan metabolism lipid yang
ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma.
Untuk menegakkan diagnosis dislipidemia perlu dilakukan pemeriksaan kadar
kolesterol total, LDL, HDL, dan TG dalam plasma. Adapun kadarnya berbeda-beda
tergantung dari jumlah faktor resiko yang dimiliki oleh pasien.
Penatalaksanaan
meliputi terapi nonfarmakologis yaitu nutrisi dan olah raga fisik. Terapi lini
pertama yang wajib dilaksanakan semua orang sebelum mendapatkan terapi
pengobatan. Terapi pengobatan terdapat beberapa golongan tergantung pada kadar
kolesterol mana yang akan dimodifikasi. Beberapa keadaan juga memperngaruhi
kadar lipid serum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar